IDENTIFIKASI KAWASAN ESTUARIA
DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR


   Estuaria  merupakan pesisir semi tertutup (semi-enclosed coastal) dengan badan air mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka (open sea) dan kadar air laut terlarut dalam air tawar dari sungai (Bengen, 2002). Di wilayah ini terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar dari daratan, sehingga air menjadi payau dengan salinitas berkisar antara 5 – 16,5 %. Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi (Supriharyono, 2000). Estuari merupakan salah satu bagian Pesisir dimana perairan terjadi pencampuran antara air laut dan air tawar yang berasal dari sungai. Dengan adanya proses pencampuran tersebut maka wilayah estuaria sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas. Estuaria memiliki banyak tipe yang diklasifikasikan berdasarkan topografi, penguapan, geomorfologi, sirkulasi dan struktur dari sirkulasi. Dari tipe tersebut ekosistem estuaria sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas, sedimen, suhu, pasang surut, substrat, gelombang, ketersediaan oksigen, dan parameter kimia seperti limbah dan bahan polutan serta aktivitas biologi dari organisme yang hidup di sekitar dan di dalam kawasan estuaria. Perairan  estuary mempunyai Salinitas yang lebih rendah dari lautan dan lebih tinggi dari air tawar yaitu antara 5 – 25 ppm.


Proses pembentukan delta biasanya terjadi di daerah yang dekat dengan muara sungai. Pembentukan delta  secara  alamiah  terjadi  dalam  kurun  waktu  puluhan tahun bahkan  sampai  ratusan  tahun.  Terjadinya peningkatan aktifitas  manusia  di  sepanjang  sungai  akan  mempercepat  proses  terbentuknya delta  di  muara  sungai.  Aktifitas  tersebut  adalah  aktifitas  yang  menghasilkan buangan  limbah  sedimen dimana limbah tersebut menyuplai  sedimen  yang secara  terus  menerus  tertampung  di  muara  sungai  yang seiring berjalannya waktu  akan  menumpuk  sampai  terbentuk timbulan tanah . Suplai   sedimen   terus   berlanjut, penumpukan terjadi bukan lagi di muka mulut muara tetapi karena proses lain yang diakibatkan oleh arus yang akhirnya  membentuk  tanah  timbul  lain dimana pengendapan  atau  deposit  sedimen  terjadi  di belakang  tanah  timbul tersebut. Kejadian  yang  berlangsung  terus  menerus  membuat jumlah dan luasan tanah  timbul  bertambah  mengarah  ke  laut  dan  pada  akhirnya  terbentuk dataran masif yang disebut dengan delta (Murerli, 2007). 



Salah satu delta atau perairan Estuaria yang akan dibahas adalah Delta Mahakam. Dimana Delta Mahakam merupakan daratan yang cukup luas dan memiliki bentuk seperti ” kipas”. Pembentukan dan proses munculnya daratan tersebut adalah akibat sedimentasi yang telah lama berlangsung selama ribuan tahun (sekitar 5000 tahun yang lalu). Luas  daratan yang ada di Delta Mahakam sekitar 5.200 km2 yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu: daerah terestrial dengan luas 1.500 km2 ,daerah delta front dengan luas 1.000 km2 dan daerah prodelta dengan luas 2.700 km2. Delta Mahakam juga merupakan kawasan daratan rendah yang memiliki keunikan, karena di wilayah tersebut terdiri dari banyak pulau-pulau kecil yang berkumpul menjadi satu di Muara Sungai Mahakam (Surahmat, 1999 dalam Pramudji dkk., 2005). Kawasan Delta Mahakam tersebut dialiri oleh banyak anak sungai yang semuanya bermuara ke Sungai Mahakam.



Sebagai  daerah estuaria, Delta Mahakam memiliki Keanekaragaman Hayati dan kaya akan sumberdaya alam lain yang hidup di air seperti: mangrove dan berbagai biota (kepiting, udang, ikan, larva ikan dan moluska) yang hidupnya tergantung pada ekosistem Estuaria. Sebagai salah satu ekosistem yang ada di area Estuaria mangrove adalah tempat yang digunakan sebagai daerah pemijahan, mencari makan, bertelur dan sebagai tempat asuhan bagi berbagai jenis larva biota air dan darat. Ekosistem Mangrove memiliki kerentanan dimana keberadaan ekosistem tersebut sangat rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti sedimen yang terlalu banyak yang disebabkan oleh aktifitas penambangan. Perubahan ekosistem hutan mangrove telah terjadi mulai tahun 1900, yaitu semenjak dimulainya eksplorasi tambang minyak yang dilakukan oleh perusahaan asing, sehingga saat ini luas hutan mangrove di Delta Mahakam mengalami penurunan.

Habitat hutan bakau bersifat khusus (Steenis, 1958 dalam Kartawinata et al., 1979), setiap jenis biota didalamnya mempunyai kegiatan ekologi tersendiri. Faktor utama yang menyebabkan adanya “pemilihan habitat”, sehingga jenis tertentu dapat ditemukan di satu lokasi sedangkan jenis tersebut tidak dijumpai di lokasi lain. Hal ini menyebabkan terbentuknya berbagai macam komunitas dan bahkan zonasi, sehingga komposisi jenis berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain. menurut (Steenis, 1958 dalam Kartawinata et al, 1979), adalah:
  1. Faktor tanah (substrat): kering, lunak, basah, keras, berpasir, lumpur atau liat (berhubungan erat dengan pasang surut) 
  2. Salinitas: variasi harian, berhubungan dengan frekuensi, kedalaman dan jangka waktu genangan
  3.        Ketahanan jenis biota terhadap arus dan ombak
   Delta Mahakam, memiliki keanekaragaman hayati seperti jenis Chrustaceae dimana dari famili tersebut terdapat berbagai jenis atau spesies yang ditemukan. Species tersebut diantaranya kepiting Perisesarma dussumieri, Uca coarctata, Sesarmops impressum, dan Uca dussumieri banyak ditemukan di lokasi Mangrove di Delta Mahakam . Bila dilihat dari segi penyebaran krustasea dapat dibagi menjadi dua cara yaitu:
  1.  Secara vertikal yang berlaku bagi krustasea yang hidupnya pada akar, batang, cabang dan daun mangrove,
  2.   Secara horizontal berlaku bagi jenis-jenis yang hidup pada substrat baik sebagai infauna (dalam lubang) atau epifauna (hidup bebas di atas substrat).
Jenis krustasea hidup menyebar secara vertikal adalah dari jenis teritip (Balanus spp.), dimana jenis ini hidup pada akar dan batang mangrove. Sedangkan jenis yang hidup secara horizontal biasanya berpola zonasi jenis dominan dengan area yang sejajar dengan garis pantai. Zonasi ini umumnya diperkirakan berhubungan dengan adanya gradient perubahan sifat ekologi yang tajam dari laut ke darat (Steenis, 1958 dalam Kartawinata et al., 1979). Terjadinya perbedaan zonasi tersebut terlihat juga pada penelitian krustasea yang dilakukan di mangrove muara Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Ekosistem dan pola hidup dari jenis krustacea tersebut tetapi masih dapat mewakili keberadaan jenis tertentu pada zonasi tersebut. Akan tetapi terdapat Ketidakjelasan zonasi pada daerah tersebut yang disebabkan karena, hutan mangrove di daerah muara Delta Mahakam sudah banyak mengalami kerusakan, sehingga luasnya berkurang dan hal ini berpengaruh sekali terhadap kehidupan biota di dalamnya, khususnya krustasea yang sangat bergantung kepada mangrove sebagai habitatnya.  

       Muara Delta Mahakam, Kalimantan Timur ditemukan enam zona populasi krustasea dari laut ke darat berturut-turut sebagai berikut: 
  1. Zona larva udang: terdapat di laut, dibagian tengah dan bagian dasar perairan, dimana ditemukan larva dari jenis udang Macrobrachium rosenbergii, Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, P. sculptilis, Parapenaeopsis hardwickii, Metapenaeus ensis, M. tenuipes, M. lysianasa, M. indicus, M. brevicornis, M. affinis dan M. dobsoni.
  2. Zona Scylla serrata: terdapat di area bawah garis surut ter-rendah, zona tersebut selalu terendam air (zona pasang surut).
  3. Zona Alpheus euphrosyne: hampir sama dengan zona Scylla serrata hanya saja letaknya sedikit agak ke bagian atas. Zona tersebut juga terdapat di bawah garis surut ter-rendah dan selalu terendam air (sub tidal zone).
  4. Zona Uca spp.: zona yang mengalami kering pada waktu air surut ter-rendah, dan memiliki substrat lumpur lunak.
  5. Zona Parasesarma spp.: zona yang kering saat surut rendah dan terendam air saat pasang tinggi (daerah pasang surut). Daerah ini memiliki substrat lumpur.
  6. Zona Metopograpsus spp.: zona yang hampir tidak pernah terendam air laut, kecuali pada waktu air pasang tertinggi dan kepiting jenis ini menyukai substrat tanah yang keras. 

 Kesimpulan
            Ekosistem esturaria yang ada di Delta Mahakam memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Sebagai contoh berkurangnya habitat dari crustacea merupakan tanda bahwa perlunya masyarakat dan pemerintah faham akan permasalahan tersebut, sebelum habitat dari ekosistem yang ada benar-benar hilang.

Daftar Pustaka
           Hutomo, M. 2003. Penelitian Biota pada Ekosistem Mangrove dan Estuaria di pesisir Delta
Mahakam Kalimantan Timur. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. Diakses 20 Maret 2018
Holthuis, L. B. 1955. The recent genera of the Caridean and Stanopodidae shrimps (ClassCrustacea, order Decapoda, supersection Natantia) with keys for their determination.E.J. Brill. Leiden. Diakses 20 Maret 2018
Pratiwi Rianta,Sebaran dan Zonasi Krustasea Mangrove di Delta Mahakam, Kalimantan Timur” http://journal.bio.unsoed.ac.id/index.php/biosfera/article/viewFile/171/130 (online). Diakses 20 Maret 2018






Komentar